Akui dan Terima
Tak jarang rasa minder, insecure, overthinking menjadi santapan harian bagi kaum muda yang kurang mengisi banyak waktu kosongnya. Melihat banyak ditemui keluhan tentang bentuk badan, warna kulit, kondisi rambut, sampai kecerdasan akal akan menjadi alasan dasar rasa tersebut datang menghampiri.
Rasa minder atau tidak percaya diri sering hadir karena banyak faktor seperti belum mengenali diri sendiri, banyak berekspektasi tinggi terhadap diri sendiri, menaruh banyak tepuk tangan atau pengakuan dari orang lain.
Rasa insecure datang akibat membandingkan diri sendiri dengan orang lain, tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki, tidak terima dengan kekurangan, dan lainnya.
Overthinking yang biasa menghadang di waktu malam sebelum tidur ini seperti bisikan setan yang akan menggoyahkan keimanan dan niat baik kita Sebelumnya, karena overthinking akan mengakibatkan manusia berfikir diluar kendali sendiri, overthinking akan memicu kita berpikir keras yang belum terjadi dan mengganggu ketenangan hidup.
3 hal bisa dikatakan wajar namun tentu jangan menjadi yang dibiasakan, sebab sebab yang menandakan manusia kurang bersyukur itulah yang akan membuat setan berbangga dan tertawa ria akibat berhasil mematahkan iman dan mental hambaNya.
Lalu mulai dari mana kita bisa meninggalkan 3 hal itu ? Diskusi saya dengan ibu saya di pagi hari yang membuat deras air mata mengalir menyembabkan mata, akan saya tuang pada cerita kali ini
Saya minder ketika harus berhadapan dengan orang yang lebih baik, lebih pintar, lebih kuat, lebih Sholeh, lebih percaya diri, dan lebih hebat dari saya. Padahal, rasa minder tidak akan mengatasi apapun dari rasa yang berkecamuk di dada.
Saya insecure akibat penampilan saya yang berbadan besar, saya pun takut bersosialisasi di hadapan banyak orang akibat takut orang meremehkan saya dari penampilan saya. Saya insecure dengan kualitas kemampuan intelektual saya yang masih pasif dan belum terasah baik.
Saya overthinking dengan pikiran seperti "nanti kalau saya melakukan ini, kira kira tanggapan orang lain terhadap saya gimana ya ? Jika saya melakukan suatu pekerjaan apakah orang lain akan melabeli saya dengan ucapan sok sibuk ? Dan sebagainya" saya sesenggukan dengn tangis yang tak kuat menyekik hati saya sambil mengucapkannya perlahan.
Ibu saya menyimak dengan baik, tidak ada ekspresi yang tertebak dari raut wajahnya, bahkan tak ada sautan di jeda tangisan saya pagi tadi. Setelah selesai mengungkapkan semua perasaan, ibu saya angkat suara dengan meletakkan pena di atas buku catatannya.
Kurang lebih seperti ini :
" Ketika kita berekspektasi tinggi terhadap diri sendiri seperti kita merasa sudah pintar, kita merasa sudah hebat, sudah Soleh, sudah sempurna akan ada jurang dalam yang menganga, coba lihat mereka yang menanjak menara, semakin tinggi menara semakin jauh permukaan bumi, sama seperti ketika kita berekspektasi terlalu tinggi terhadap diri sendiri dengan kelebihan kita ketika Allah hadapkan kita dengan manusia yang lebih hebat , mentall kita akan otomatis menciut dan jatuh dengan luka dalam. Mau tau kenapa ? Karena sejatinya, tidak ada manusia yang sempurna. Kita sudah sering dengar ini ribuan kali dalam hidup namun kita melupakan untuk memposisikan kesempurnaan ini di mana saja, mungkin kita hanya memposisikan sempurna dalam fisik saja, padahal lebih luas dari itu.
Pahami sekali lagi, ketika kita menganggap diri kita baik cara menjatuhkan diri sendiri adalah dengan dihadirkan orang yang lebih baik. Maka, ekpektasi itu hancur dengan kenyataan yang ternyata tidak sinkron dengan bayangan kita.
Baca surat An Nas ayat keempat,
من شرّ الوسواس الخناس
Bisikan setan tidak berhenti pada menganggu kita untuk tidak ibadah, bisikan setan sudah upgrade ke level berbeda yakni membuat manusia menjadi merasa paling baik dan benar.
Na'udzubillahi mindzaalik
Simpelnya gini, apa yang salah dengan kita seperti ini ? (Kondisi dan situasi sekarang) apa yang memalukan dengan kondisi tersebut ?
Kondisinya tidaklah salah, yang salah adalah manusia yang tidak tahu bahwa sesungguhnya dia tidak tahu . Kondisi yang kurang baik bisa diperbaiki lagi, kemampuan yang kurang masih bisa kita asah lagi, lalu apa yang tidak normal ?
Yang tidak normal adalah ketika kita tidak bisa normalizing situasi yang berbeda. Kita jauh menanjak tinggi namun tidak dengan rendah hati, kita jatuh di lubang terdalam akibat tidak terima segala kekurangan.
Akui, akui bahwa itu memang kekurangan mu. Akui bahwa itu adalah nikmat Allah yang kamu miliki.
Coba katakan : ya Allah, aku ikhlas aku ridho aku mengakui aku belum pintar, belum Sholeh, belum mampu, belum ini dan itu. Maka ya Allah, jadikan orang orang hebat disekitar ku menjadi media untuk ku belajar.
Ada dua hal yang perlu kita tanam dalam dalam
1. Jika kita bertemu dengan orang hebat, beruntung, pintar, dan lainnya.
akui bahwa kita belum seperti itu dan berdoa semoga kelebihan yang mereka miliki bisa menjadi inspirasi kita untuk lebih baik lagi
2. Jika kita bertemu dengan orang sebaliknya, dalam artian mereka belum semampu (hal apapun) kita, semoga dengan nikmat Allah lainnya kita bisa membantu dan menginspirasi mereka untuk lebih baik lagi.
Begitulah manusia hidup pasti ada penyebab kita berada di suatu tempat dengan alasan terbaik yang Allah sudah rencanakan. Kita jalani dengan terus belajar dan tidak sombong sudah membuktikan bahwa itulah cara mengoptimalkan syukur kita dengan baik.
Tutup ibuku dengan senyuman menguatkan.
Semoga bermanfaat.



♥️♥️
ReplyDelete