Andragogi Man Jadda Wajada


Terlepas dari kenyataan bahwa kita tela terlampau sering mendengar kalimat Mutiara berbahasa Arab yang berbunyi 
Man Jadda wajada  sejak menduduki bangku sekolah dahulu, ada yang menarik dari rangkaian kata bahasa Arab yang diterapkan dalam kalimat mutiara atau Mahfudzot tersebut. 

Ditinjau dari segi harfiyah dan susunannya dalam ilmu nahwu,  Jadda  merupakan kata kerja last ( fi'lu madzin) yang berarti dia yang telah bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan. Lalu wajada  merupakan kata kerja akhirnya ( fi'lu madzin  ) yang berarti telah mendapatkan atau dapatlah ia, namun karena Man yang berarti barang siapa adalah salah satu Harfu syarthi  Lil'aqli  atau huruf syarat yang dimana susunannya harus memiliki sebab dalam menunjukkan kata kerja dan akibatnya sebagai keterangannya. Maka dapat diartikan "barangsiapa yang telah bersungguh-sungguh maka dapatlah ia".  

Mahfudzot ini bukan hanya banyak digemari siswa ketika masa sekolah karena pendek kalimatnya dan mudah dihafal, namun implementasi yang nyata terus berulang kali kita dapatkan dalam hidup. Man Jadda Wajada t elah menjadi salah satu mantra yang ditulis oleh Ahmad Fuadi dalam novel triloginya Negeri 5 Menara yang sukses diangkat menjadi film Indonesia yang sangat populer dan menyenangkan banyak masyarakat kita. Maka, tidak asing bagi kaum awam pun akan memahami dan mengenal arti dari man Jadda wajada itu sendiri. 

PEMILIHAN DIKSI YANG TEPAT

Dilihat dari konteks pemilihan kata yang disusun dalam mahfudzot tersebut menjadi menarik ketika muncul pertanyaan seperti "kenapa harus mereka yang bersungguh-sungguh?" Atau "apakah tidak bisa diganti menjadi Man shabara (barang siapa yang sabar), man 'amila (barang siapa yang melakukan), man tawakkala (barang siapa yang bertawakal) Atau lainnya?"

Bila kita menyelami lebih dalam, ternyata ada kekuatan yang terkandung dalam mahfudzot tersebut. Penyair memilih Jadda sebagai acuan untuk mereka yang mendapatkan adalah karena semua niat, usaha, ikhtiar, dan tawakal dilakukan dengan sungguh-sungguh. Maka bersungguh-sungguh di sini memiliki makna yang kompleks, mengandung standarisasi seseorang yang telah mendapatkan apa yang diimpikannya sudah pasti ia bersungguh-sungguh dalam perjuangannya, dalam niat, usaha, ikhtiar, tawakkal, dan do'anya. Tidak serta Merta hanya bersungguh-sungguh menginginkan suatu perusahaan, tapi ada energi besar dan konsistensi dalam menjaga kesungguhannya. 

HADIAH UNTUK ORANG YANG SUNGGUH-SUNGGUH

Al khawarizmi tidak akan menemukan angka nol dan teori algoritma bila ia tidak bersungguh-sungguh, Albert Einstein tidak akan dapat mengembangkan teori relativitas jika tidak ada kesungguhan yang kukuh dalam tekadnya, Ir Soekarno tidak akan dapat mengumumkan proklamasi Kemerdekaan jika tidak ada kesungguhan pemuda Indonesia dalam menumpas Konservasi, dan tokoh lainnya yang telah memberikan bukti nyata bahwa memang semua hal yang disusun menuju langit harus ada tekad kesungguhan yang menggigit. 

Sudah dapat kita pastikan bersama hadiah dari kesungguhan kita adalah yang akan kita dapatkan. 

Man Jadda Wajada bukan lagi menjadi pembuka pelajaran Mahfudzot di awal pelajaran, atau penutup saat menambahkan khutbah atau bicara, man Jadda wajada bisa jadi pengingat bahwa janji Allah kepada mereka yang berusaha semaksimal mungkin dengan tekad yang besar dan sungguh-sungguh yang mendarah, akan memberikan hadiah yang istimewa . 

Merujuk firman Allah dalam surat Al Ankabut ayat 69 

والَّذِيْنَ جاهَدُوْا فينا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سسبلَنَاۗواِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan menjadikan mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.

Selain mendapatkan jawaban dalam bentuk nikmat dari apa yang kita impikan, ternyata Allah memberi kesempatan bagi orang yang bersungguh-sungguh dijadikan dalam satu baris orang-orang salih. Maa syaa Allah




Comments

Popular Posts